Pemerintah yang ‘Cacat’

Oleh: Wibisono Bagus Nimpuno
Postgraduate Urban Design Program, Istanbul Technical University

Tanggal menulis: Senin, 26 Maret 2012

***

Hidup merupakan anugerah yang terindah dari Allah SWT. yang kita miliki, sebagian orang dilahirkan dengan fisik yang sempurna, hanya beberapa orang yang kurang beruntung yang tidak memiliki kesempurnaan itu. Namun, bukan berarti mereka tidak lebih baik dari kita, bahkan terkadang mereka jauh lebih baik dari kita.Sebutan ‘cacat’ sebisa mungkin kita hindari untuk menyebut teman-teman kita yang memiliki ‘perbedaan’ tersebut, kita menggunakan terminologi ‘difable’ atau different ability untuk menyebut mereka yang memiliki perbedaan tersebut.

Orang difable dilarang jalan-jalan, kerja, atau sekedar menikmati fasilitas publik di Indonesia. Ketika semua negara maju dan berkembang telah memberikan kesempatan bagi warganya yang difable untuk ikut serta dalam pembangunan dan ‘menikmati’ kotanya, di Indonesia perhatian untuk mereka belum ada sama sekali (menurut saya). Pemerintah seolah ‘cacat’ hatinya untuk banyak memberikan perhatian kepada para difable, apa yang mereka bangun (yang katanya) untuk kenyamanan para difable, nyatanya hanyalah tipuan yang menghambur-hamburkan uang. Seolah mereka akan rugi kalau menyediakan fasilitas untuk difable yang minoritas di Indonesia.

Beberapa bangunan publik memang sudah ‘pro’ terhadap difable, namun masih kurang. Mereka hanya menyediakan toilet untuk mereka, bagaimana dengan akses lingkungan? Tangga? Elevator? Di lingkungan ‘urban’ pemerintah lebih parah lagi. Mereka hanya membuat tipuan-tipuan mata dan kekonyolan serta penghamburan uang. Sebagai kasus di ibukota, halte busway misalnya. Mengapa menggunakan ramp yang berkelok-kelok untuk mengaksesnya? Tujuannya adalah untuk mengakomodir pengguna kursi roda (katanya, dari sumber yang pernah saya dengar). Konyol Yang pernah menggunakan jalur busway pasti tahu, jangankan pengguna kursi roda, orang sehat saja terengah-engah untuk melintasi jalur tersebut. Kasus lain adalah ‘difable pathway’, kita tahu keramik kuning yang memiliki tekstur diatasnya, bertujuan sebagai penunjuk arah bagi tunanetra. Di Indonesia saya melihat ada di Jogja, pedestrian Malioboro, namun sekarang sudah tertutup oleh lapak-lapak dagangan. Di Semarang juga baru dibangun sebagai ‘pencitraan’ walikota yang baru agar ‘pro’ difable, namun kenyataannya hanya disatu jalur pedestrian saja (dan sudah rusak belum ada setahun). Sebagian besar, jalur tersebut tidak menerus (seolah ingin memberi kejutan/ mengaja ktebak-tebakan para pengguna jalur tersebut).

Banyak kasus lainnya, seperti sarana transportasi yang tidak ‘difable’wi (ada manusiawi), penggunaan simbol-simbol difable, huruf Braille, dsb. Pemerintah seolah menutup mata terhadap mereka. Tidak perlu melihat ke Amerika yang secara negara sudah terbentuk, kita lihat keTurki, yang sama-sama negara berkembang. Begitu nyamannya hidup para difable disini. Semua terjamin, tidak hanya dari asuransi pemerintah, namun juga sarana publik yang berhak mereka nikmati. Bahkan ada petugas jaga yang sigap untuk mengantar mereka, suatu hari ketika saya naik metro di Taksim adas eorang tunanetra keluar dari kereta sambil jalan tak menentu, kemudian ada seorang sukarelawan yang membantunya menunjukkan jalan, tak selang berapa lama seorang petugas security menghampiri, dan mengatakan biar saya yang antar. Di Indonesia kesadaran semacam itu belum ada nampaknya.

Sebagai catatan, ada banyak hal yang perlu diperhatikan untuk membuat kota yang nyaman bagi difable. Ada standar-standar khusus, sarana khusus seperti telefon umum bagi difable, kamarmandi bagi difable, alarm, ramp atau jalan miring bagi pengguna kursi roda, semua bisa dilihat di situs ADAAG (America with Disability Act Accessibility Guidelines), ini memang standar di Amerika, namun tidak beda jauh untuk diterapkan di negara manapun.

Pemerintah, sebagai institusi paling bertanggung awab (menurut saya) terhadap masalah ini, sebagai pengatur kebijakan publik dan penyedia sarana publik yang nyaman bagi semua warganya. Selain pemerintah, tentu kita sebagai ‘orang’ (homo homini lupus) juga memiliki tanggung jawab juga. Faktanya memang sudah banyak program di tingkat nasional maupun ASEAN untuk mereka para difabel, namun hanya sebatas penggembira saja (nampaknya), gaungnya tidak terdengar setelah beberapa waktu kemudian.

Hendaknya setiap orang, entah itu pembuat kebijakan, perancang, atau pelaksana menempatkan dirinya sebagai orang minoritas. Jangan merasa kesempurnaan yang kita miliki akan bertahan lama, semua akan kembali kepada Allah SWT. Selama kita masih diberi kesempurnaan itu, berjuanglah untuk teman-teman kita yang difable, saya yakin mereka sedang menunggu kita dan mereka berharap diperlakukan sama seperti kita.

Salam.

5 thoughts on “Pemerintah yang ‘Cacat’

  1. sebenernya judulnya Pemerintah yang ‘Cacat’ (nurani)
    Baik itu relatif sebetulnya, hanya saya di Indonesia sampai sekarang baru sebatas ‘niat’ (cuma kelamaan niatnya), aksinya belum ada…..^^’

  2. What a great post bagus… jadi teringat tugas akhirku…🙂 dan seminarku… perlu diingat bahwa diffable itu tidak sebatas penyandang cacat fisik semata ya gus… wanita hamil, elderly dan anak-anak pun tergolong diffable lowh. Sebaiknya memang tidak hanya menyalahkan pemerintah saja ya gus… tapi ada solusi-solusi dari kita (as a designer) terhadap fenomena pemerintah yang cacat ini.

    anyway, keep posting ya gus…🙂
    we miss u…

  3. iya Dinda, memang g cuma pemerintah siy, pasti kita sbg designer juga punya peran dalam meyakinkan client agar membuat yang comfort untuk para difable….hehehe,, nampaknya harus ada mata kuliah sendiri, disini udah masuk mata kuliah sendiri soalnya, Environment for Elderly and Difable, dan kurikulum di univ kita nampaknya harus segera direvisi….^^

    Sampai ketemu di Indonesia Dinda,
    Salam untuk teman-teman…:)

  4. Waaah keren ni postingannya, dan salam kenal :
    > jadi pemerintah selamanya akan tetap cacat dan jika hanya jika kontra kebijakan itu dilakukan tetapi bukan prioritas. dan hal ini sebagian kecil dari makin kerdilnya Indonesia.
    >Untuk Indonesia : Semoga Indonesia Kita hari ini lebih baik. Doa kebaikan selalu utk Para Pemimpin kita dan utk saudara2 kita yg blm menikmati buah kemerdekaan

    salam,
    #silaturrahimjalanterus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s